BUDIDAYATANAMAN JAHE
PENDAHULUAN
Jahe
merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia,
disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun
fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan
tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor
dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe
putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe
putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume permintaannya terus
meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin
berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang
menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia
mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003
turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang
tidak memenuhi standar. Namun
permintaan jahe mengalami peningkatan
setiap tahun. Kondisi ini di Indonesia, direspon dengan makin
berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe.
Pengembangan
jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya
pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai
tingkat keberhasilan budidaya yang optimal
diperlukan bahan tanaman
dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara
menerapkan budidaya anjuran. Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di
negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme,
mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera
diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya
dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas
unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir
ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan
standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung
GAP (Good Agricultural Practices).
PERSYARATAN TUMBUH TANAMAN JAHE
Untuk
budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk
pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan
persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A, B dan C
(Schmidt & ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl.,
temperatur rata-rata tahunan 25 - 30ยบ C, jumlah bulan basah (> 100
mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm,
intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai
terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat
berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat
diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 – 2
ton/ha untuk meningkatkan pH tanah. Pada lahan dengan kemiringan >
3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat
dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk
menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi
tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan
lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan
merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases)
terutama bakteri
layu dan nematoda.
Untuk menjamin kesehatan
lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada
serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali
berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat
untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya
gejala allelopati.
BAHAN TANAMAN JAHE
Jahe (Zingiber
officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong
famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk
pedang, rimpang seperti tanduk,
beraroma. Selama ini di Indonesia,
berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi
kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan
jahe merah. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai
rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 –
8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang
6,20 – 11,30
dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan
kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Jahe putih kecil (Z.
officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma
tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi
dan panjang rimpang 6,38 –11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau
muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.
Jahe
merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis,
aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter
4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 –
12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar
minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Balittro telah melepas varietas unggul jahe
putih besar
(Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha.
Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah
rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil
adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin
2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar
minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.
PEMBENIHAN TANAMAN JAHE
Benih
yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur
dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman
yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit penting pada
tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu
bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum),
layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematode (Rhodopolus similis) dan
lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu
perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit
tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber
penularan penyakit di lapangan. Pemilihan benih harus dilakukan sejak
pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang
penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang
penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal
pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah
panen, yaitu di gudang penyimpanan.
Pemeriksaan dilakukan untuk
membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih
dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua
minimal
berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat
tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna
kulit mengkilat menampakkan tanda bernas. Rimpang yang terpilih untuk
dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik
dengan bobot sekitar 25- 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk
jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe
merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang
dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe
putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan
benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.
Sebelum
ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara
menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang
tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak
ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari
bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian dilakukan penyiraman
setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih
rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap
ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah
rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan
dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan
perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian
dikering anginkan.
BUDIDAYA TANAMAN JAHE
Untuk mencapai
hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil
maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal
usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.
A.Persiapan lahan tanaman jahe
Sebelum
tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar
gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan
cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari
ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Untuk tanah
dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati
disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau
digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara
lapisan olah dengan
lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur
tumbuhnya. Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah
lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim
pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.
B.Jarak tanam
Benih
jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan
terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang
digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80
cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x
40 cm.
C.Pemupukan
Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah
masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam.
Sedangkan dosis pupuk buatan SP-36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400
kg/ha,
diberikan pada saat tanam. Pupuk urea diberikan 3 kali pada
umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha,
masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah
tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.
D.Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.
a. Penyiangan gulma
Sampai
tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan
perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah umur
4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran
yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi
intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.
b. Penyulaman
Menyulam
tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1– 1,5 bulan setelah
tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.
c. Pembumbunan
Pembumbunan
mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan,
agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan
pembumbunan, drainase akan selalu
terpelihara.
d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman
Pengendalian
hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada
jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu
(Ralstonia solanacearum).
Sampai saat ini belum ada metode
pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan
untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat,
penggunaan
benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan
(penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman
dan gulma, pembuatan saluran irigasi
supaya tidak ada air menggenang
dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun
secara rutin. Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan
dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup
signifikan adalah lalat rimpang
Mimergralla coeruleifrons (Diptera,
Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai
(Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan
menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang
disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini
apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan
penurunan produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan
penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada
serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit,
inspeksi secara rutin.
POLA TANAM TANAMAN JAHE
Untuk
meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan
tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai
dengan kondisi lahan.
PANEN TANAMAN JAHE
Panen untuk
konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk
benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan
membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian
tanah yang menempel dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul
jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang
segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan
cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha
rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin
2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri
3,2
– 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul
Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah,
memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).
Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut:
Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%
PASCA PANEN TANAMAN JAHE
Tahapan
pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan,
pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus
secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta
mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan
disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan.
Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air
pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi
bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu
dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm. Untuk mendapatkan
simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus
beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah
diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan
pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah
mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan,
pengeringan telah dianggap cukup. Selain itu, dikenal jahe kering
gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara
rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian
dijemur dengan energi matahari atau
dioven sampai kering atau kadar
air mencapai 8 - 10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung
atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila
kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya,
berventilasi baik,
dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.
PENGANEKARAGAMAN PRODUK TANAMAN JAHE
Selain
simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin,
bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan
anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat
dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat
rendah. Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan
sekoteng berasal dari jahe putih kecil yangdipanen tua. Selain untuk
bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk
obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini
diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri
pada tulang, otot dan sendi.
USAHATANI TANAMAN JAHE
Untuk
memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan,
faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu diperhitungkan. Berikut
adalah analisis usahatani jahe dengan
menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.
BIAYA PRODUKSI BUDIDAYA JAHE PER HEKTAR
a. Jahe putih besar
No. Komponen Biaya Vol. Fisik SatuanB iaya (RpJ)u mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 2000 kg 4500 9 000 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pasca panen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 26 245 000
Biaya (RpNo. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan J)u mlah
B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 4 000 750 3 000 000
Jumlah ID 3 750 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 31 235 000
- Bunga bank 10 bulan (10.8 % (13 %/th) 3 373 380
TOTAL BIAYA I 34 608 380
II Keuntungan
A. Hasil penjualan benih 20 000 –
25 000 kg
4 500 90 000 000 –
112 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 55 391 620 – 77 891 620
Ket : Hasil penjualan benih adalah 80 % dari hasil panen, 20 % sebagai
penyusutan di gudang
b. Jahe putih kecil
No. Komponen Biaya Vol. Fisik SatuanB iaya (RpJu) mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 1000 kg 4500 4 500 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 21 745 000
B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
Jumlah IB 1 125 000
C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 2500 750 1 800 000
Jumlah ID 2 550 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 25 535 000
- Bunga bank 10 bulan
10,8 % (13 %/th)
2 757 780
TOTAL BIAYA I 28 292 780
II Keuntungan
A. Hasil penjualan benih (80% dari hasil panen)
10 000 –
13 000 kg
4 500 45 000 000 –
58 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 16 707 220 – 30 207 220
Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen
c. Jahe merah
Biaya No. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan (RpJu) mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 1000 kg 4500 4 500 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 21 745 000
B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
Jumlah IB 1 125 000
C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 2500 750 1 800 000
Jumlah ID 2 550 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 25 535 000
- Bunga bank 10 bulan
10,8 % (13 %/th)
2 757 780
TOTAL BIAYA I 28 292 780
II Keuntungan
A. Hasil penjualan benih 10 000 –
13 000 kg
4 500 45 000 000 –
58 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 16 707 220 – 30 207 220
Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen
Sumber : Homepage : http://www.balittro.go.id
insektisida organik