Sabtu, 03 Maret 2012

BUDIDAYA TANAMAN JAHE

BUDIDAYATANAMAN JAHE

PENDAHULUAN

Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume permintaannya terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun
permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini di Indonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe.

Pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal
diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung
GAP (Good Agricultural Practices).


PERSYARATAN TUMBUH TANAMAN JAHE

Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A, B dan C (Schmidt & ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl., temperatur rata-rata tahunan 25 - 30ยบ C, jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 – 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah. Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri
layu dan nematoda.

Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.


BAHAN TANAMAN JAHE

Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk,
beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang
6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 –11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.

Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar
(Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.


PEMBENIHAN TANAMAN JAHE

Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematode (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan. Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan.

Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua
minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas. Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25- 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.


Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.


BUDIDAYA TANAMAN JAHE
Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.
A.Persiapan lahan tanaman jahe
Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara
lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya. Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.

B.Jarak tanam
Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

C.Pemupukan
Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis pupuk buatan SP-36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha,
diberikan pada saat tanam. Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

D.Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.
a. Penyiangan gulma
Sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.
b. Penyulaman
Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1– 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.
c. Pembumbunan
Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu
terpelihara.
d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman
Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum).
Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat,
penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi
supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang
Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

POLA TANAM TANAMAN JAHE
Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.



PANEN TANAMAN JAHE
Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri
3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).


Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut:
Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%


PASCA PANEN TANAMAN JAHE
Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm. Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau
dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik,
dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK TANAMAN JAHE
Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat rendah. Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yangdipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.

USAHATANI TANAMAN JAHE
Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu diperhitungkan. Berikut adalah analisis usahatani jahe dengan
menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.

BIAYA PRODUKSI BUDIDAYA JAHE PER HEKTAR
a. Jahe putih besar
No. Komponen Biaya Vol. Fisik SatuanB iaya (RpJ)u mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 2000 kg 4500 9 000 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pasca panen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 26 245 000

Biaya (RpNo. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan J)u mlah

B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 4 000 750 3 000 000
Jumlah ID 3 750 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 31 235 000
- Bunga bank 10 bulan (10.8 % (13 %/th) 3 373 380
TOTAL BIAYA I 34 608 380
II Keuntungan
A. Hasil penjualan benih 20 000 –
25 000 kg
4 500 90 000 000 –
112 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 55 391 620 – 77 891 620
Ket : Hasil penjualan benih adalah 80 % dari hasil panen, 20 % sebagai
penyusutan di gudang


b. Jahe putih kecil
No. Komponen Biaya Vol. Fisik SatuanB iaya (RpJu) mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 1000 kg 4500 4 500 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 21 745 000

B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
Jumlah IB 1 125 000

C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 2500 750 1 800 000
Jumlah ID 2 550 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 25 535 000
- Bunga bank 10 bulan
10,8 % (13 %/th)
2 757 780

TOTAL BIAYA I 28 292 780

II Keuntungan

A. Hasil penjualan benih (80% dari hasil panen)
10 000 –
13 000 kg
4 500 45 000 000 –
58 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 16 707 220 – 30 207 220
Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen

c. Jahe merah
Biaya No. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan (RpJu) mlah
I. Penyediaan Benih
A. Penangkaran
1. Benih 1000 kg 4500 4 500 000
2. Pupuk
- Pupuk kandang 40 ton 80 000 3 200 000
- Urea 600 kg 1 200 720 000
- SP36 300 kg 1750 525 000
- KCl 400 kg 2000 800 000
3. PHT 1 pkt 450 000 450 000
4. Gaji Upah
- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 750 000
- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 1 500 000
- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 900 000
- Penanaman 60 HOK 15 000 900 000
- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 4 500 000
- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 1 500 000
- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000 1 500 000
Jumlah IA 21 745 000
B. Penanganan benih
1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 1 125 000
Jumlah IB 1 125 000
C. Sertifikasi
1. Kebun 1 ha 15 000 15 000
2. Benih 100 000
Jumlah IC 115 000
D. Packing
1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 750 000
2. Kotak kayu 2500 750 1 800 000
Jumlah ID 2 550 000
- Jumlah biaya IA s.d ID 25 535 000
- Bunga bank 10 bulan
10,8 % (13 %/th)
2 757 780
TOTAL BIAYA I 28 292 780
II Keuntungan
A. Hasil penjualan benih 10 000 –
13 000 kg
4 500 45 000 000 –
58 500 000
TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) 16 707 220 – 30 207 220
Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen

Sumber : Homepage : http://www.balittro.go.id

pengendalian penyakit antraknosa atau patek

Penyakit antraknosa atau patek pada tanaman cabai disebabkan oleh Cendawan Colletotrichum capsici Sydow dan Colletotrichum gloeosporioides Pens, penyakit antraknosa atau patek ini merupakan momok bagi para petani cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20-90 % terutama pada saat musim hujan, cendawan penyebab penyakit antraknosa atau patek ini berkembang dengan sangat pesat bila kelembaban udara cukup tinggi yaitu bila lebih dari 80 rH dengan suhu 32 derajat selsius biasanya gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan
busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman.
Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek:
  • Melakukan prendaman biji dalam air panas (sekitar 55 derajat Celcius) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.
  • Penyiraman fungisida atau agen hayati yang tepat pada umur 5 sebelum pindah tanam.
  • Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi, namun perlu diperhatikan saat melakukan pemusnahan, tangan yang telah menyentuh (sebaiknya diusahakan tidak menyentuh) luka pada tanaman tidak menyentuh tanaman/buah yang sehat, dan sebaiknya dilakukan menjelang pulang sehingga kita tidak terlalu banyak bersinggungan dengan tanaman/buah yang masih sehat.
  • Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae(terong, tomat dll) atau tanaman inang lainnya misal pepaya karena berdasarkan penelitian IPB patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai pada pertanaman.
  • Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya.
  • Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
  • Menggunakan jarak tanam yang lebar yaitu sekitar 65-70 cm (lebih baik yang 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
  • Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi.
  • Penyiangan / sanitasi gulma atau rumput-rumputan agar kelembaban berkurang dan tanaman semakin sehat.
  • Jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknosa / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
  • Pengelolaan drainase yang baik di musim penghujan.
Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah : Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium Amorphospongarium, athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut
Sumber :
http://tohariyusuf.wordpress.com/2010/01/11/anthraknosa-atau-patek-pada-...

Selasa, 28 Februari 2012


KELOMPOK TANI'' AMUT'' KAUNERAN 1 SONDER KABUPATEN MINAHASA SUL-UT
DAFTAR NAMA ANGGOTA

TAHUN 2012

1    Denny           Mondigir                Ketua

2    Novly           Tenda                     Wkl ketua

3    Ruddy           Sumakul                 Sekertaris

4    Ronald           Mondigir                Bendahara

5    Welly             Oroh                      sie pht

6    Novie            Mondigir                sie.pht

7    Jefry              Pesik                      sie.pemasaran

8    Jendri            Mondigir                 sie.pemasaran

9    Sampel          Lolowang               Anggota

10  Decky          Runtu                     Anggota

11  Jenny           Tambuwun              Anggota

12  Welli            Olbata                     Anggota

13  Tommy         Mondigir                 Anggota

14  Frangki         Keintjem                 Anggota

15  Joyke           Mangare                  Anggota

16  Sonie           Massie                     Anggota

17  Rolly            Mondigir                  Anggota

18  Lole             Irot                          Anggota

19  Moudy         Mamait                    Anggota

20  Adry            Oroh                        Anggota

21  Jhony           Mamait                     Anggota



SEJARAH BERDIRINYA KELOMPOK TANI "AMUT"

,
 berawal dari daerah usaha Tani keluarga pada tanaman cabe.
Pada tahun 2001 seorang petugas penyuluh lapangan menghubungi salah seorang petani cabe, agar supaya membentuk kelompok tani dari jumlah petani cabe di desa Kauneran Pada waktu itu hanya sekitar 4 orang maka pembentukan kelompok tani belum dapat dilaksanakan.
Pada tahun 2005, petani cabe di desa Kauneran semakin banyak, maka pada tanggal 07 Mei 2005 melalui rapat anggota yang berjumlah 17 orang di bentuklah suatu wadah klompok tani yang diberi nama "AMUT".
AMUT dalam bahasa tountemboan berarti 'Akar', sedangkan bagi anggota, bermakna ALLAH MEMBERKATI USAHA TANI.
TANI (Tiang Anugerah Negara Indonesia).
   Pengukuhan pengurus dan nama kelompok tani dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2005 oleh kepala desa Bapak Legie Singon. Dengan struktur pengurus,pelindung, kepala desa, pembina, penyuluh pertanian kecamatan, ketua, wakil ketua, sekretaries, bendahara, anggota.

Dalam perkembangannya kelompok tani AMUT diikut sertakan oleh BPP/BP3K kecamatan sonder mengikuti program pemerintah melalui dinas terkait  telah menerima batuan dalam bentuk benih dan sebagainya.
Kelompok tani amut mengikuti :
1. Pelatihan pengurus kelompk tani di Kalasei
2. Pembersihan eceng gondok di danau Tondano
3. Pelatihan program dalam rangka program FEATI di Tondano yang dilaksanakan di
    Tomohon.
4. Studi banding tanaman cabe di Desa Purworejo Kabupaten Bolaang Mongondow.
5. Studi banding tanaman cabe di Propinsi Gorontalo
6. Demonstrasi penanaman Jagung Hibrida di Kecamatan Kakas Minahasa.
dll.

Sampai saat ini ada beberapa program kelompok Tani Amut yang telah dilaksanakan, diantaranya:

(1) 1 lahan untuk 1 anggota (2006-2007)
(2) Rica-rica (2008
(3) menanam tanpa cangkul (2009)
(4) Berkebun membangun desa (2010)
(5) Sonder Central (2011).

Usaha pertanian yang dilaksanakan anggota kelompok tani "AMUT" saat ini adalah:
- Padi
- Cabai
- jagung
- Jahe
- lain-lain

Cabai dijadikan primadona andalan, sedangkan jahe adalah tanaman masa depan.                                    

PROMOSI RICA SONDER

     Prospek usaha tani,, khusus tanaman Cabe di minahasa cukup menggembirakan, mengingat tingkat kebutuhan cabe di daerah ini menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, apa lagi tingkat kesukaan cabe( rica-rica atau dabu-dabu) diatas rata-rata.

Melihat peluang usaha ini, petani sonder khusus petani Cabe desa Kauneran  telah membudidayakan sekitar 15 ha lahan tidur,. diantaranya 10 Ha usaha anggota kelompok tani Amut dan 5 ha petani lainnya.

Penanaman telah dimulai awal november 2011. dan akan melakukan panen perdana pada maret 2012,   puncak produksinya sekitar bulan juni 2012.

Rica sonder cukup dikenal di daerah ini karena kekhasannya antara lain :

Rica yang belum masak berwarna hijau (Rica Mie)
bentuk buah campuran
 rasanya pedas dan tidak pahit

   perkiraan untuk tahun ini produksi cabe desa Kauneran sekitar 45 ton. Jadi bagi pedagang dan Konsumen yang membutuhkan Rica{cabe rawit} sonder silahkan datang dipasar sonder setiap hari senin, rabu, dan jumat


MAKASE 

Eeee... orang sonder bole ba rayooo...
sooaalnya....bukang cuma cingke yg orang luar kenal
malahan .... tu rica sonder....orang jakarta
dengan orang papua soo ja pesan akang....ha..ha...haaaa
TABEA WAYA                        

Jumat, 24 Februari 2012

Pompa Hidrolik Made in "Kauneran Sonder"



Minggu, 19 Februari 2012

penyakit kuning keriting pada tanaman cabe

                                                       >Gejala awal :

-                      Terlihat pada 45-71 hari
-          Saat tanaman mengeluarkan tunas dan bunga pertama.
-          Pada pucuk daun berwarna kuning mudah terlihat pagi hari saat tanaman basah oleh embun
-          Atau saat hujan.
Batang akan bertunas banyak dan tunas mudah ini daunnya berwarna kuning keriting, pada tingkat lanjut tanaman akan berbuah sedikit dan hanya pada sebagian cabangan saja.
                                                       >Pengamatan
. Terjadi pembusukan akar bagian atas (serabut) bisa diamaati dengan mata telanjang.                                                   penyebap' jamur atau virus???
                                                        >Pengendalian      
-            
   
                                                                                Drainase
 .                                             .obat
 .                                               Fungisida
-                                                                                              Bakterisida
-                                                                                              Interval 7 hari........sapai ambang batas kendali                                                                                                                                                                                                                                            

                          by Ruddy  












penyakit keriting pada cabe

Penyakit keriting pada cabe sering menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh petani cabe di Indonesia karena menjadi salah satu penyebab turunya hasil panen. Bahakan pada tingkat serangan yang serius penyakit ini bisa menyebabkan gagal panen. Penyakit semacam ini bisa dibilang cukup umum dan banyak sekali terjadi di Lapangan. Gejala awal serangan ditandai dengan adanya warna mosaik kuning atau hijau muda mencolok pada daun. Kelanjutanya pucuk menumpuk  keriting diikuti dengan bentuk helaian daun menyempit atau cekung, buah kecil, bengkok dan ringan. Secara keseluruhan tanaman tumbuh tidak normal, menjadi lebih kerdil dibandingkan dengan tanaman sehat.

Penyebabnya adalah CMV (Cucumber Mosaic Virus). Vektornya berupa Aphid dan Thrips. Aphid memiliki mulut berupa alat tusuk dan hisap. Pada saat ia berada di permukaan daun, Aphid akan menghisap zat-zat dari daun, sehingga otomatis dia akan bisa menularkan penyakit (virus) dan memperbanyak diri dalam tanaman tersebut. Sedangkan Thrips bekerja dengan menusuk klorofil (zat hijau daun) yang sangat diperlukan dalam proses pembuatan zat makanan bagi tumbuhan. Akibatnya, daun menjadi pucat dan tidak dapat memasok kebutuhan organ lain.

Nah, buat baraya Akang yang suka berkebun cabe, mulai sekarang tidak perlu lagi hawatir dan takut oleh penyakit ini. Akang punya ramuan mantap surantap yang sudah terbukti ces pleng di lapangan. Akan menjadi lebih baik hasilnya bila digunakan untuk pencegahan dengan penyemprotan secara rutin. Akang jamin tanaman cabe Ayi tidak akan tersentuh oleh penyakit ini, karena sifat ramuan ini, selain untuk mengobati juga sebagai replant terhadap binatang-binatang pembawa dan penyebar virusnya.

Ramuan yang pertama teh terdiri dari Brotowali 1 kg, Kapur 10 sdm dan Kunyit 1 kg. Ketiga bahan tersebut ditumbuk halus, kemudian tambahkan air 30-50 liter. Setelah didiamkan selama 24 jam, ramuan disaring dan siap untuk digunakan.

Yang kedua mah memakai Abu dapur 2 kg, Tembakau 250 gr dan Belerang 3 ons. Ketiga bahan direndam dalam air selama 3–5 hari. Saring air rendaman tersebut dan semprotkan pada tanaman yang terkena penyakit keriting.
Kategori: Pestisida
http://bertanimandiri.blogspot.com/2010/03/mengatasi-penyakit-kriting-pada-cabe.html